Senin, 25 Februari 2013 - 06:52:06 WIB
KESALEHAN PERSONAL DAN KESALEHAN SOSIAL
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Informasi Umum - Dibaca: 31184 kali

KESALEHAN PERSONAL DAN KESALEHAN SOSIAL

sumber dari : Abid Muhammad Nur; Ilhamnuddin Nukman

Agama diwahyukan untuk memberikan petunjuk dan sebagai way of life bagi manusia. Petunjuk tersebut tidak berlaku hanya untuk diri sendiri dalam konteks kesalehan personal, akan tetapi sebaliknya berlaku secara makro pada tataran kesalehan sosial dan personal; keduanya berjalan linier dan saling menyatu membentuk kehidupan yang seimbang bagi hubungan manusia baik secara vertikal maupun horizontal.

Menurut Husein ibadah sosial memiliki dimensi sosial yang lebih luas dibandingkan dengan dimensi ibadah personal. Dalam teks-teks fiqh klasik, kita dapat melihat bahwa bidang ibadah personal merupakan satu bagian saja dari sekian banyak bidang keagamaan lain seperti muamalat (hubungan sosial), munakahat (hukum keluarga), jinayat (pidana), Qadha (peradilan), dan imamah atau siyasah (politik). Menurut Husein, ini merupakan bukti bahwa kontendari prinsip-prinsip beragama pada dasarnya mengarahkan pandangan pada kesalehan sosial dalam arti yang luas. Contoh sederhana yang dapat kita perhatikan adalah, ajaran Islam sangat menganjurkan untuk melaksanakan sholat berjama’ah dibandingkan dengan sholat sendirian, 1 berbanding 27. Mengapa hal itu bisa terjadi? Dengan sholat berjama’ah akan terbangun hubungan sosial yang harmonis, terciptanya solidaritas yang kuat, empati satu sama lain dan aspek-aspek sosial lainnya.

Menganalisis fakta sosial yang berat sebelah demikian, Mas’udi menyebutkan bahwa agama dapat dilihat dalam tiga kategori yaitu, agama subyektif, agama obyektif dan agama simbolik. Agama subyektif lebih bersifat personal dengan kecenderungan pada kesadaran dan kepasrahan pada Yang Mutlak. Dalam konteks ini, agama personal tidak dapat dihakimi oleh orang lain, karena setiap orang memiliki keyakinan dan pemahaman yang sangat individual, yang memiliki perbedaan dengan orang lain.

Sebaliknya agama obyektif lebih bermakna akhlakul karimah, yakni kontekstualisasi sikap dan perilaku kita pada tataran sosial dengan menyandarkan perilaku tersebut pada ajaran agama, salah satu contohnya adalah kejujuran. Tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan pemeluknya untuk memiliki sikap tidak jujur. Ini merupakan bukti kontekstualisasi ajaran agama pada aspek perilaku manusia.

kesalehan-sosial_bAgama subyektif dan obyektif sama halnya dengan konsep iman dan amal. Iman bersifat personal tetapi amal merupakan aplikasi iman dalam kehidupan sosial. Iman menjadi landasan perilaku baik dalam konteks hubungan vertikal (hablum minallah) maupun hubungan horisontal (hablum minannas wa hablum minal ’alam). Sementara yang dimaksud dengan agama simbolik adalah agama nisbi yang hadir karena tuntutan dari agama subyektif dan obyektif.

Kesalehan Personal

Kesalehan Personal merupakan jenis kesalehan yang ukurannya ditentukan berdasarkan seberapa taat seseorang menjalankan salat lima waktu, seberapa panjang zikir-zikir sesudah salat, dan seberapa sering salat sunat ia lakukan; kesalehan ini ditentukan berdasarkan ukuran serba legal formal sebagaimana kata ajaran. Kesalehan personal diapresiasikan oleh sebagian besar umat, sebuah sikap dan perilaku keagamaan yang parsial, egoistis dan individualistik. Orang lebih bersemangat menjalankan sebagian ibadah-ibadah sunnah seperti zikir, salat, puasa, dll. dari pada ibadah-ibadah sosial seperti mengurus kepentingan umum, bersilaturrahmi, membantu kesulitan tetangga, dan menyelesaikan problem kemiskinan. Orang merasa lebih beragama dibanding yang lain jika telah memperhatikan aspek simbol-simbol (syiar) keagamaan, kuantitas dan masalah-masalah furu’ seperti memelihara jenggot, membangun masjid. Tetapi mereka hampir tidak mempedulikan terhadap persoalan-persoalan subtansial, esensial dan kualitas masyarakat. Orang lebih memprioritaskan ibadah haji thathawwu” (haji kedua dst) dari pada membiayai anak tetangga yang hampir putus sekolah karena tidak dapat membayar SPP, atau orang lebih suka meng-haji-kan orang miskin yang belum mempunyai tempat tinggal daripada membantunya agar mempunyai rumah, dan seterusnya.

Dalam perspektif syariah, Qardlawi ((1995) juga melihat praktek-praktek keagamaan di berbagai negara muslim yang dinilai: (1) mementingkan hal-hal yang bersifat simbul (syiar) daripada yang subtansial; (2) memperhatikan hal-hal yang bersifat kuantitatif dan artifisial daripada yang bersifat kualitatif dan esensial; (3) mendahulukan pembentukan apa yang kita sebut ‘kesalehan individual’ daripada ‘kesalehan sosial’; (4) memprioritaskan tuntutan-tuntutan subyektif, kelompok dan golongan daripada tuntutan-tuntutan obyektifitas, masyarakat, nasional, dan dunia Islam; (5) menonjolkan pemikiran-pemikiran keagamaan skolastik dan dialektik daripada pemikiran empirik dan praktis.

Kesalehan Sosial

Kesalehan sosial merupakan bentuk kesalehan yang lebih ditentukan oleh kehidupan praktis seseorang, seberapa banyak kegiatan-kegiatan sosial yang ia lakukan, seberapa jauh rasa toleransi, kepedulian terhadap sesama, cinta kasih, harga-menghargai, dan perilaku lainnya yang berdimensi sosial. Kesalehan sosial memandang bahwa kesalehan tidak ditentukan oleh doa-doa, zikir-zikir, dan ritualitas keagamaan lainnya yang lebih mengesankan sikap hidup egoistis, tetapi kesalehan itu ada pada perwujudan, manifestasi dan apresiasi keimanan dalam praksis sosial.

Bahwa setiap agama dipahami mempunyai dua dimensi antara esoteris dan eksoteris, antara simbolik dan nilai-nilai yang dianggap esensi dan hakiki. Dan juga telah dipahami bahwa dalam wilayah eksoteris-historis keberbedaan itu ada, tetapi pada wilayah esoteris setiap agama menawarkan pesan perdamaian dan keselamatan, keadilan sosial dan cinta kasih”. Dalam wilayah inilah agama dipahami memiliki kesamaan (kalimatun sawa’). Bahkan menurut perspektif teologi inklusif, kesamaan itu juga ada pada wilayah tauhid, bahwa seluruh isi al-Qur’an dan kitab suci sebelumnya adalah pesan Tuhan. Pesan-pesan tersebut menegaskan bahwa perintah Tuhan itu sama untuk pengikut Muhammad saw. dan mereka yang menerima kitab suci Muhammad saw, yaitu pesan yang berisi untuk selalu taqwa kepada Allah.

Kelihatannya terlalu idealis untuk menyeimbangkan antara kesalehan personal dan sosial. Akan tetapi kelihatannya tidak bijak jika kita tidak mencobanya dan menerapkannya dalam kehidupan manusia. Agama akan menjadi kering dengan hanya menitikberatkan pada pemahaman yang bersifat personal tanpa menghadirkan nilai-nilai sosial di dalamnya. Karena pada dasarnya agama memiliki peranan yang sangat vital dalam membina umat manusia. Agama tidak sekedar memiliki fungsi sebagai aturan kehidupan bagi manusia, sebaliknya agama memegan peranan yang bersifat universal.

admin: kami ucapkan rasa terimakasih kepada para pemberi komen atas segala sarannya, kami meminta maaf apabila pelayanan websites ini kurang berkenan.



4991 Komentar :

pengobatan hepatitis
03 April 2013 - 09:43:01 WIB

Terima kasih. atas infonya.
Obat Tradisional Diabetes Melitus
06 April 2013 - 08:25:14 WIB

Met pagi, semoga aktivitas di pagi hari ini di beri kelanacaran.
Terima makasih atas beritanya..!!!!
ace maxs
08 April 2013 - 09:05:43 WIB

terimakasih beritanya.. semoga aktifitas anda di lancarkan.. :D
obat kencing nanah
08 April 2013 - 09:26:49 WIB

Tereimaksih sungguh menarik artikelnya..
jelly gamat gold g
08 April 2013 - 13:47:01 WIB

terimakasih infonya ...
ace maxs
08 April 2013 - 13:59:25 WIB

terimakasih infonya ...
pengobatan maag kronis
08 April 2013 - 14:08:39 WIB

salam kenal dan sukses
cara pemesanan jelly gamat
08 April 2013 - 15:56:38 WIB

terimakasih atas beritanya.. saya simak juga ko :D
Obat sipilis
09 April 2013 - 09:47:35 WIB

keren juga artikenya...
obat mandul
09 April 2013 - 10:46:45 WIB

keren postingannya....
saya suka gan...
<< First | < Prev | ... 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | ... | 500 | Next > | Last >>

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)